Monday, June 20, 2011

BIOGRAFI IBLIS


   
       Nama                                : Iblis
Gelar                                 : Setan
Tgl Lahir                            : 1-1-Tahun perintah sujud kepada Adam
Alamat                              : Hati orang-orang yang lengah
Warga Negara                  : Dunia
Agama                               : Kekufuran
Pekerjaan                          : Pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Allah
Pangkat dan golongan      : Pembangkang Utama
Jabatan                              : Pemimpin tertinggi kekufuran dan sirik
Masa Kerja                        : Sejak kelahiran nabi Adam sampai kiamat
Modal Kerja                      : Penipuan
Cara Kerja                         : Bertahap
Sarana                               : Seks, harta, dan semua hiasan dunia
Sumber rejeki                   : Semua yang haram
Tempat                              : Night club, pasar, dan tempat-tempat kotor
Hobi                                   : Menyesatkan dan menjerumuskan
Cita-cita                            : Semua manusia masuk neraka
Istri                                    : Semua yang terbuka auratnya
Anak sah                            : Lima orang
Cucu                                  : Yang durhaka pada orang tuanya
Yang ditakuti                     : Zikir dan ayat Al Quran
Musuh                               : Tuhan dan orang beriman
Teman                               : Semua yang rakus, boros, dan ingin kekal
Kekuasaan                         : Nihil
Kemampuan                      : Lemah
Wewenang                        : Merayu
Alat komunikasi                : Waswas dan mengumpat
Yang paling disenangi       : Pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia
Kepribadian                       : Angkuh


*dikutip dari suatu sumber

Monday, March 21, 2011

Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat



Hadist No. 1
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat Allah melipat langit lalu Allah menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong ? Kemudian Allah melipat bumi di tangan kiri-Nya. Lalu Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong? (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 7412).

Hadits No.2
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d r.a. dia berkata Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat manusia dikumpulkan pada bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan gundul tanpa ada tanda-tanda di atasnya bagi siapa pun.   (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 6521).

Thursday, March 3, 2011

Rasul dan Jeruk Limau



Rasulullah sangat memuliakan dan sentiasa meraikan tetamu. Pada suatu hari Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabat di rumah Abi Arqam. Tiba-tiba datang seorang perempuan Quraisy ke arah mereka. 

Perempuan itu sebenarnya mahu menguji Rasulullah, benarkah baginda seorang yang sangat berakhlak dan tidak pernah mengecilkan hati orang. Perempuan itu membawa tiga biji limau yang diletakkan di dalam dulang bersamanya. 

Tiba di hadapan Rasulullah dia meminta Rasulullah memakan limau itu di hadapannya pada ketika itu juga. "Silalah makan limau hadiah saya ini," katanya. "Saya rasa bahagia jika tuan memakannya," sambung perempuan itu lagi. 

Mendengar kata-kata perempuan itu, Rasulullah dengan senang hati mengambil buah itu. Baginda mengupas kulitnya dan makan seulas demi seulas. Sambil makan limau itu baginda tersenyum manis. Setelah habis sebiji diambilnya sebiji lagi. Rasulullah makan dengan begitu berselera sekali. 

Para sahabat yang duduk di sekeliling baginda berasa ngiur melihat limau itu. Tambahan pula mereka semuanya dalam keadaan lapar. Tetapi mereka hairan dengan sikap Rasulullah yang langsung tidak mempelawa atau memberi limau itu kepada mereka. Kerana setahu mereka Rasulullah adalah seorang yang sangat pemurah dan dermawan. 

Setelah habis limau yang kedua itu baginda mengambil limau yang ketiga dan memakannya sambil melemparkan senyuman yang manis kepada para sahabat yang duduk bersamanya. Sebaik sahaja baginda selesai menghabiskan limau yang ketiga itu, perempuan Quraisy tadi dengan tersipu-sipu terus keluar tanpa berkata sepatah perkataan pun. 

Apabila perempuan itu hilang dari pandangan baginda, Rasulullah pun bersabda: "Limau itu tadi adalah limau yang paling masam yang pernah aku makan. Aku takut sekiranya aku memberi kamu, kamu akan makan dengan mengenyit-ngenyit mata di hadapan perempuan itu. Jadi aku takut kalau perbuatan itu boleh mengecilkan hatinya." 

Dengan itu fahamlah para sahabat yang berada bersama Rasulullah. Demi untuk menjaga hati perempuan itu Rasulullah sanggup menghabiskan buah limau itu walaupun ianya sangat masam. Baginda juga tidak menunjukkan sebarang reaksi yang tidak baik walaupun limau yang diberi itu masam. 

Malah Rasulullah sedikit pun tidak marah kepada perempuan itu yang hendak mempermainkannya. Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana mulia akhlak baginda. Baginda tidak sanggup mengecilkan hati seseorang walaupun terhadap orang bukan Islam.

Monday, February 14, 2011

Penjahat Baik, dan Penjahat Buruk

Ada dua orang yang bernama Badu dan Badai, masing-masing mempunyai seorang anak. Si Badu dan si Badai mempunyai korenah yang sama dalam hal perilaku buruk. Mereka sering melakukan perbuatan yang dilarang Allah seperti mabuk, judi ataupun zina. Sebaliknya jarang sekali melaksanakan perintah Allah seperti kewajiban shalat, puasa.

Namun ada sedikit perbedaan antara keduanya. Karena merasa bereperilaku jelek, si Badu ga pernah menganjurkan anaknya berbuat baik seperti ngaji, shalat atau puasa. Karena merasa tidak pantas menyuruh orang berbuat baik sedangkan dirinya sendiri tidak pernah melakukan amal kebaikan. Sedangkan Badai sering menganjurkan anaknya berbuat baik karena tidak mau anaknya menjadi seperti dia. Makanya si Badai mengirim anaknya berguru pada seorang kiyai, menyuruhnya mengaji, sembahyang dan puasa.

Mana yang baik perilaku diantara kedua orang itu.

Semoga menjadi renungan. Subhanllah.



Teh Botol, Kasih Seorang Ibu


Dalam ceramahnya, seorang Ustadz bercerita bahwa dia menerima sms dari seorang anak menanyakan “bolehkah menyiram kuburan dengan air teh botol?”  

Untuk menjawab pertanyaan tersebutnya sang ustadz merasa perlu mengetahui apa latar belakang anak tersebut  bertanya demikian, maka beliau terlebih dahulu menemui anak itu. Rupanya anak tersebut mempunyai ibu yang telah meninggal yang dulunya beprofesi sebagai pelacur. Menurut cerita sang anak ibunya kalau maupergi menjalankan profesinya selalu setelah mendirikan shalat Isya. Setelah pulang diapun mandi dan shalat dua rakaat. Setiap malam sang ibu selalu membawakan teh botol untuk sang anak, karena anaknya ini sangat menyukai teh botol. Dan teh botol tersebut selalu dibawa dalam kantong plastik.

Setelah ibunya meninggal, dari cerita teman-teman sang ibu, diketahui bahwa teh botol yang dibawa pulang tersebut berasal dari sisa sisa minuman para tamu. Beliau ingin selalu memberi oleh-oleh untuk anaknya, sesuatu yang disukai anaknya walaupun penghasilnya sangat tidak mencukupi. Sang ibu berusaha menghemat uang demi untuk masa depan seorang anak, serta niat untuk dapat segera terbebas dari jeratan ‘maksiat”.  

Diceritakan bahwa sang anak ingin berbakti kepada orang tua dengan cara memberi siraman air teh botol dari botol yang asli (bukan dengan kantong bungkus plastik) sambil membacakan doa agar ibunya diberi ampunan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sang ustadz menambahkan bahwa kita tidak bisa menyamaratakan pandangan atas suatu kasus. Yang mungkin punya latar belakang yang kita tidak ketahui.

Subahanallah.

Wednesday, September 29, 2010

Hadits Nabi tentang Shadaqah

Rasulullah saw pernah bersabda :
“Barangsiapa yang meminta dengan menyebut nama Allah maka berilah; 
Barangsiapa yg meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindungilah; 
Barangsiapa yg mengundangmu maka penuhilah undangannya; 
Dan barangsiapa yg berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah kebaikannya itu, tetapi jika kamu tidak dapat membalasnya maka do’akanlah untuknya dengan sungguh-sungguh sampai kamu merasa bahwa kamu sudah mmebalas kebaikannya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra.)

Monday, March 22, 2010

RENUNGAN DARI ALPHABET

Thursday, December 24, 2009

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal
By Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
Kamis, 02 April 2009 pukul 13:11:00

ISI
• Orang yang serba berkecukupan seringkali sulit beribadah secara khusyuk dan merasa tidak akrab dengan Tuhannya, meskipun melakukan berbagai ketaatan dan ibadah, kenapa?
• Bagaimana dan apa kiatnya untuk memperoleh kedekatan diri dengan Tuhan dalam keadaan seperti ini?

Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal. Ketika semua kebutuhan tercukupi apalagi berlebihan.

Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kuantitatif maupun segi kualitatif.

Tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda satau sama lain. Namun wacana di dalam Islam dibedakan atas beberapa tingkatan kebutuhan, yaitu:

1) Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.

2) Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi.

3) Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan handphone yang lebih canggih.

Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.

Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.

Kesenangan hidup, apalagi kalau sampai berlebihan, bawaannya sulit mendaki (taraqqi) ke langit. Sebagai contoh, orang yang berkecukupan sulit sekali berlama-lama khusyuk dalam shalatnya, bukan hanya karena banyaknya godaan dunia yang ada dalam pikirannya, tetapi juga tidak punya tekanan batin atau trigger, semacam roket pendorong yang akan mengangkatnya ke langit.

Trigger itu biasanya suasana batin yang betul-betul merasa sangat butuh pertolongan Tuhan. Seperti orang yang merasakan kesulitan yang sesegera mungkin harus mengeluarkan diri dari kesulitan itu.

Itulah sebabnya Rasulullah pernah mengingatkan untuk waspada terhadap doa orang yang teraniaya (madhlum) karena doanya lebih cepat sampai kepada Tuhan. Memang dalam Islam dikenal ada dua sayap efektif yang bisa menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur.

Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan.

Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan, seperti seseorang mendapatkan rezki melimpah, jabatan penting, dan kesehatan prima.

Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengorbitkan seseorang mendekati Tuhan tetapi pada umumnya hentakan sayap sabar lebih kencang ketimbang sayap syukur. Sayap sabar seolah-olah memiliki energi ekstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang amat sangat terhadap Tuhan (raja’), penyerahan diri secara total kepada Tuhan (tawakkal), dan olah batin yang amat dalam (mujahadah).

Ketiga energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Tuhan sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan.

Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sementara ia terperangkap di dalam dunia popularitas. Bagaimana mungkin melakukan olah batin sementara nuraninya diselimuti kilauan dunia. Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan.

Orang yang hidupnya selalu berkecukupan dan enjoy dengan kehidupan seperti itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi jika ia lupa bahwa kehidupan ini adalah sementara lantas lalai mempersiapkan bekal kehidupan akhirat maka pertanda hidup itu tidak berkah baginya. Mungkin saja orang itu sesungguhnya hidup di dalam kebahagiaan semu, selalu dibayangi oleh suasana batin yang hambar, kering, dan membosankan.

Di dalam Islam, kekayaan dan kebahagiaan yang hakiki ialah kekayaan dan kebahagiaan jiwa (al-ghina ghinan nafs). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan jiwa maka sesungguhnya tidak ada kekayaan dan kebahagiaan sejati.

Islam tidak melarang orang untuk mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif.

"Dunia adalah cermin akhirat", demikian kata Hadis. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.

Kiat mengatasi suasana batin yang berada dalam kondisi normal ialah memperkuat semangat raja’ dan mujahadah di dalam diri. Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari suasana hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salah satu masjid, apalagi di dalam bulan suci Ramadlan.

Di dalam masjid kita berniat untuk beri’tikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, shalat, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa faqir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan yang bersangkutan akan melahirkan generasi lemah (dha’f) di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak.

Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di akhirat.

Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma’ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita),Amin.