Monday, March 21, 2011

Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat



Hadist No. 1
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat Allah melipat langit lalu Allah menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong ? Kemudian Allah melipat bumi di tangan kiri-Nya. Lalu Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong? (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 7412).

Hadits No.2
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d r.a. dia berkata Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat manusia dikumpulkan pada bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan gundul tanpa ada tanda-tanda di atasnya bagi siapa pun.   (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 6521).

Thursday, March 3, 2011

Rasul dan Jeruk Limau



Rasulullah sangat memuliakan dan sentiasa meraikan tetamu. Pada suatu hari Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabat di rumah Abi Arqam. Tiba-tiba datang seorang perempuan Quraisy ke arah mereka. 

Perempuan itu sebenarnya mahu menguji Rasulullah, benarkah baginda seorang yang sangat berakhlak dan tidak pernah mengecilkan hati orang. Perempuan itu membawa tiga biji limau yang diletakkan di dalam dulang bersamanya. 

Tiba di hadapan Rasulullah dia meminta Rasulullah memakan limau itu di hadapannya pada ketika itu juga. "Silalah makan limau hadiah saya ini," katanya. "Saya rasa bahagia jika tuan memakannya," sambung perempuan itu lagi. 

Mendengar kata-kata perempuan itu, Rasulullah dengan senang hati mengambil buah itu. Baginda mengupas kulitnya dan makan seulas demi seulas. Sambil makan limau itu baginda tersenyum manis. Setelah habis sebiji diambilnya sebiji lagi. Rasulullah makan dengan begitu berselera sekali. 

Para sahabat yang duduk di sekeliling baginda berasa ngiur melihat limau itu. Tambahan pula mereka semuanya dalam keadaan lapar. Tetapi mereka hairan dengan sikap Rasulullah yang langsung tidak mempelawa atau memberi limau itu kepada mereka. Kerana setahu mereka Rasulullah adalah seorang yang sangat pemurah dan dermawan. 

Setelah habis limau yang kedua itu baginda mengambil limau yang ketiga dan memakannya sambil melemparkan senyuman yang manis kepada para sahabat yang duduk bersamanya. Sebaik sahaja baginda selesai menghabiskan limau yang ketiga itu, perempuan Quraisy tadi dengan tersipu-sipu terus keluar tanpa berkata sepatah perkataan pun. 

Apabila perempuan itu hilang dari pandangan baginda, Rasulullah pun bersabda: "Limau itu tadi adalah limau yang paling masam yang pernah aku makan. Aku takut sekiranya aku memberi kamu, kamu akan makan dengan mengenyit-ngenyit mata di hadapan perempuan itu. Jadi aku takut kalau perbuatan itu boleh mengecilkan hatinya." 

Dengan itu fahamlah para sahabat yang berada bersama Rasulullah. Demi untuk menjaga hati perempuan itu Rasulullah sanggup menghabiskan buah limau itu walaupun ianya sangat masam. Baginda juga tidak menunjukkan sebarang reaksi yang tidak baik walaupun limau yang diberi itu masam. 

Malah Rasulullah sedikit pun tidak marah kepada perempuan itu yang hendak mempermainkannya. Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana mulia akhlak baginda. Baginda tidak sanggup mengecilkan hati seseorang walaupun terhadap orang bukan Islam.

Monday, February 14, 2011

Penjahat Baik, dan Penjahat Buruk

Ada dua orang yang bernama Badu dan Badai, masing-masing mempunyai seorang anak. Si Badu dan si Badai mempunyai korenah yang sama dalam hal perilaku buruk. Mereka sering melakukan perbuatan yang dilarang Allah seperti mabuk, judi ataupun zina. Sebaliknya jarang sekali melaksanakan perintah Allah seperti kewajiban shalat, puasa.

Namun ada sedikit perbedaan antara keduanya. Karena merasa bereperilaku jelek, si Badu ga pernah menganjurkan anaknya berbuat baik seperti ngaji, shalat atau puasa. Karena merasa tidak pantas menyuruh orang berbuat baik sedangkan dirinya sendiri tidak pernah melakukan amal kebaikan. Sedangkan Badai sering menganjurkan anaknya berbuat baik karena tidak mau anaknya menjadi seperti dia. Makanya si Badai mengirim anaknya berguru pada seorang kiyai, menyuruhnya mengaji, sembahyang dan puasa.

Mana yang baik perilaku diantara kedua orang itu.

Semoga menjadi renungan. Subhanllah.



Teh Botol, Kasih Seorang Ibu


Dalam ceramahnya, seorang Ustadz bercerita bahwa dia menerima sms dari seorang anak menanyakan “bolehkah menyiram kuburan dengan air teh botol?”  

Untuk menjawab pertanyaan tersebutnya sang ustadz merasa perlu mengetahui apa latar belakang anak tersebut  bertanya demikian, maka beliau terlebih dahulu menemui anak itu. Rupanya anak tersebut mempunyai ibu yang telah meninggal yang dulunya beprofesi sebagai pelacur. Menurut cerita sang anak ibunya kalau maupergi menjalankan profesinya selalu setelah mendirikan shalat Isya. Setelah pulang diapun mandi dan shalat dua rakaat. Setiap malam sang ibu selalu membawakan teh botol untuk sang anak, karena anaknya ini sangat menyukai teh botol. Dan teh botol tersebut selalu dibawa dalam kantong plastik.

Setelah ibunya meninggal, dari cerita teman-teman sang ibu, diketahui bahwa teh botol yang dibawa pulang tersebut berasal dari sisa sisa minuman para tamu. Beliau ingin selalu memberi oleh-oleh untuk anaknya, sesuatu yang disukai anaknya walaupun penghasilnya sangat tidak mencukupi. Sang ibu berusaha menghemat uang demi untuk masa depan seorang anak, serta niat untuk dapat segera terbebas dari jeratan ‘maksiat”.  

Diceritakan bahwa sang anak ingin berbakti kepada orang tua dengan cara memberi siraman air teh botol dari botol yang asli (bukan dengan kantong bungkus plastik) sambil membacakan doa agar ibunya diberi ampunan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sang ustadz menambahkan bahwa kita tidak bisa menyamaratakan pandangan atas suatu kasus. Yang mungkin punya latar belakang yang kita tidak ketahui.

Subahanallah.

Wednesday, September 29, 2010

Hadits Nabi tentang Shadaqah

Rasulullah saw pernah bersabda :
“Barangsiapa yang meminta dengan menyebut nama Allah maka berilah; 
Barangsiapa yg meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindungilah; 
Barangsiapa yg mengundangmu maka penuhilah undangannya; 
Dan barangsiapa yg berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah kebaikannya itu, tetapi jika kamu tidak dapat membalasnya maka do’akanlah untuknya dengan sungguh-sungguh sampai kamu merasa bahwa kamu sudah mmebalas kebaikannya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra.)

Monday, March 22, 2010

RENUNGAN DARI ALPHABET

Thursday, December 24, 2009

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal
By Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
Kamis, 02 April 2009 pukul 13:11:00

ISI
• Orang yang serba berkecukupan seringkali sulit beribadah secara khusyuk dan merasa tidak akrab dengan Tuhannya, meskipun melakukan berbagai ketaatan dan ibadah, kenapa?
• Bagaimana dan apa kiatnya untuk memperoleh kedekatan diri dengan Tuhan dalam keadaan seperti ini?

Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal. Ketika semua kebutuhan tercukupi apalagi berlebihan.

Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kuantitatif maupun segi kualitatif.

Tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda satau sama lain. Namun wacana di dalam Islam dibedakan atas beberapa tingkatan kebutuhan, yaitu:

1) Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.

2) Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi.

3) Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan handphone yang lebih canggih.

Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.

Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.

Kesenangan hidup, apalagi kalau sampai berlebihan, bawaannya sulit mendaki (taraqqi) ke langit. Sebagai contoh, orang yang berkecukupan sulit sekali berlama-lama khusyuk dalam shalatnya, bukan hanya karena banyaknya godaan dunia yang ada dalam pikirannya, tetapi juga tidak punya tekanan batin atau trigger, semacam roket pendorong yang akan mengangkatnya ke langit.

Trigger itu biasanya suasana batin yang betul-betul merasa sangat butuh pertolongan Tuhan. Seperti orang yang merasakan kesulitan yang sesegera mungkin harus mengeluarkan diri dari kesulitan itu.

Itulah sebabnya Rasulullah pernah mengingatkan untuk waspada terhadap doa orang yang teraniaya (madhlum) karena doanya lebih cepat sampai kepada Tuhan. Memang dalam Islam dikenal ada dua sayap efektif yang bisa menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur.

Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan.

Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan, seperti seseorang mendapatkan rezki melimpah, jabatan penting, dan kesehatan prima.

Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengorbitkan seseorang mendekati Tuhan tetapi pada umumnya hentakan sayap sabar lebih kencang ketimbang sayap syukur. Sayap sabar seolah-olah memiliki energi ekstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang amat sangat terhadap Tuhan (raja’), penyerahan diri secara total kepada Tuhan (tawakkal), dan olah batin yang amat dalam (mujahadah).

Ketiga energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Tuhan sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan.

Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sementara ia terperangkap di dalam dunia popularitas. Bagaimana mungkin melakukan olah batin sementara nuraninya diselimuti kilauan dunia. Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan.

Orang yang hidupnya selalu berkecukupan dan enjoy dengan kehidupan seperti itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi jika ia lupa bahwa kehidupan ini adalah sementara lantas lalai mempersiapkan bekal kehidupan akhirat maka pertanda hidup itu tidak berkah baginya. Mungkin saja orang itu sesungguhnya hidup di dalam kebahagiaan semu, selalu dibayangi oleh suasana batin yang hambar, kering, dan membosankan.

Di dalam Islam, kekayaan dan kebahagiaan yang hakiki ialah kekayaan dan kebahagiaan jiwa (al-ghina ghinan nafs). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan jiwa maka sesungguhnya tidak ada kekayaan dan kebahagiaan sejati.

Islam tidak melarang orang untuk mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif.

"Dunia adalah cermin akhirat", demikian kata Hadis. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.

Kiat mengatasi suasana batin yang berada dalam kondisi normal ialah memperkuat semangat raja’ dan mujahadah di dalam diri. Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari suasana hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salah satu masjid, apalagi di dalam bulan suci Ramadlan.

Di dalam masjid kita berniat untuk beri’tikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, shalat, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa faqir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan yang bersangkutan akan melahirkan generasi lemah (dha’f) di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak.

Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di akhirat.

Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma’ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita),Amin.

Tuesday, December 16, 2008

KENAPA BABI HARAM

Babi adalah hewan berkaki pendek, berkulit tebal dengan bentuk tubuh bagai tong. Ada delapan jenis babi, yang nenek moyangnya adalah babi hutan. Babi hutan sangat cepat larinya dan pandai berenang. Babi hutan dijinakkan orang Cina sekitar 500 tahun yang lalu. Binatang ini menggabungkan pada dirinya beberapa sifat binatang buas dan binatang jinak. Ia memiliki taring dan memakan bangkai sebagaimana halnya binatang buas, tetapi dalam saat yang sama ia memakan rumput.

Babi adalah binatang kotor yang senang hidup di arena yang kotor. Dia makan yang serba kotor, walau bangkai, bahkan terkadang binatang ini membiarkan mangsanya beberapa hari, agar membusuk lalu memakannya.

Babi tidak dipelihara oleh bangsa-bangsa Arab, dan dipandang juga sebagai kotor oleh bangsa-bangsa Phoenicia, Etiopia dan Mesir. Bagi orang Yahudi, daging babi dilarang untuk dimakan. Dr. E. A. Widmer menulis dalam Good Health bahwa: “Daging babi adalah salah satu bahan makanan yang banyak dimakan, tetapi dia sangat berbahaya. Tuhan tidak melarang kaum yahudi memakan daging semata-mata untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya, tetapi karena daging babi bukan satu makan yang baik dimakan manusia.”

Babi sangat kuat dorongan seksualnya. Jantannya boleh jadi “menunggangi” betinanya yang sedang makan rumput. Si betina boleh jadi menempuh ratusan mil, sedang si jantan masih terus juga di punggungnya. Siapa yang melihat jejak kedua binatang itu sedang bercumbu, boleh jadi menduga bahwa itu adalah seekor binatang yang berkaki enam, padahal itu adalah dua ekor babi yang sedang berhubungan seks.

Jantan babi dapat berhubungan seks pada usia delapan bulan, bahkan ada babi yang melakukannya pada usia empat bulan. Betinanya melahirkan setelah usia enam bulan, dan tidak dapat melahirkan lagi bila mencapai usia lima belas tahun. Babi betina dapat melahirkan dua puluh ekor anak, dengan sekali pembuahan. Babi seringkali menceburkan dirinya di air kotor/lumpur untuk menyejukkan badannya. Kulitnya disamak dan bulunya yang keras dibuat sikat. Pertumbuhan babi sangat cepat. Ketika lahir beratnya sekitar 2 kg, tetapi setelah sekitar enam bulan, beratnya mencapai 100 kg, dan ini masih terus meningkat sampai akhirnya ditemukan babi dewasa yang beratnya antara 272 kg sampai dengan 363 kg. Semua yang diuraikan di atas antara lain disebabkan karena babi memiliki hormon pertumbuhan dan hormon seksual (Gonadotrophins) yang sangat tinggi, dan ini pula yang menjadikan ia memiliki banyak lemak.

Sementara pakar berpendapat bahwa babi dapat menularkan kepada manusia banyak penyakit, seperti influenza, peradangan otak (Japanese B Encephalitis), peradangan mulut dan hati (Stomatitis dan Myocarditis) dan lain lain.

Salah satu penemuan baru yang terungkap setelah maraknya rekayasa genetika, adalah ditemukannya virus-virus yang terdapat pada babi yang dapat mengakibatkan penyakit yang dapat membawa kematian pada manusia, karena virus-virus tersebut tidak dapat dibunuh melalui cara pembakaran atau pemasakan biasa. Ada juga virus yang dinamai oleh ilmuwan Trichine, yang menurut Ensiklopedia La Rose yang terbit di Perancis, virus ini bila masuk ke dalam diri manusia ia akan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain hingga ke jantung manusia, kerongkongan dan matanya, dan ia dapat bertahan bertahun-tahun dalam badan manusia. Demikian lebih kurang yang dikutip oleh Mustafa az-Zarqa dalam fatwa-fatwanya.

Dalam buku S. Akhtar Rizvi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Daging Babi? No, dikemukakan juga bahwa ulat Trichina yang sudah cukup besar berukuran kira-kira 1/6 inci dan lebarnya 1/400 inci. Ulat ini dapat hidup selama empat puluh tahun, melingkar dalam bentuk jeruk, berupa kapsul kecil yang tak dapat dilihat di antara otot-otot. Apabila termakan oleh manusia, ia akan membesar dan menelurkan 500 ekor setiap ulat. Setelah satu sampai tiga minggu ia masuk ke dalam darah dan menyerang tubuh manusia serta menimbulkan sekitar lima puluh macam penyakit sehingga menyulitkan proses diagnosanya.

Ada lagi yang disebut oleh para dokter dengan nama Balantidium Coli. Ia adalah kuman yang normal pada perut babi. Ia keluar dari tubuh sebagai kotoran dan di luar ia tidak menemukan tempat sehingga berkembang menjadi sel di sekelilingnya yang disebut Cyst. Cyst berisikan parasit-parasit hidup yang berkomunikasi dengan makanan manusia sehingga masuk ke dalam perutnya. Hal ini menurut Sayyid S. Akhtar Rizvi dalam bukunya yang disebut di atas–ditemukan oleh Drston (1857) dan Stein (1862).

Di sisi lain, dalam harian asy-Syarq al-Ausath edisi 16-2-1999 M, dikemukakan kekhawatiran sejumlah dokter di Inggris atas upaya pencangkokan sel-sel babi pada otak penderita Parkinson.
Semua yang penulis sadur dari berbagai sumber di atas boleh jadi menjadi sebab pengharaman babi untuk dimakan, bahkan najisnya seluruh badannya–termasuk kulitnya–meski telah disamak sekalipun.

Ada persamaan antara babi dan manusia. Yaitu ia tidak dapat dikuliti, kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang yang lain. Di samping itu, para dokter dewasa ini menilai bahwa katup jantung babi adalah katup yang paling sesuai dengan katup jantung manusia. Apakah ini yang menjadi sebab sehingga babi terlarang dimakan? Boleh jadi demikian, kata sementara orang. Boleh jadi juga karena binatang ini sangat kotor, bahkan sementara orang berkata bahwa lalat pun enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya yang besar, seperti dikemukakan di atas, bisa juga menjadi penyebab pengharamannya. Memang makanan dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada makanan atau minuman yang bisa mempengaruhi jiwa manusia, dan dapat memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi. Apakah sifat-sifat binatang dapat mempengaruhi jiwa manusia? Penulis tidak mengetahui ada penelitian yang saksama menyangkut hal ini, tetapi hal tersebut tidak mustahil.

Jika anda tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar Anda menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama Islam–dan sebelumnya oleh agama Yahudi–adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak selalu harus dipahami nalar. Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas. Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan karena kendaraan mengambil arah kiri, berbeda dengan di Amerika, Jerman atau Timur Tengah dan banyak negara selain itu. Mengapa demikian? Anda tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila Anda di Indonesia atau di Inggris, Anda harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara itu, dan ketika berada di Jerman, Anda pun harus mematuhi sistem dan peraturan lalu lintas yang mereka tetapkan. Nah, demikian juga bila Anda menganut agama Islam, Anda harus mematuhi ketetapan Allah yang mengharamkan babi, baik Anda ketahui sebabnya maupun tidak.

Di sisi lain, perlu diingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazâli. Seorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah tempat tinggal mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu berpikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. Dalam benaknya berkata: “Ayah melarangku menebangnya karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku.” Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular menyerangnya yang datang dari arah pohon yang telah ditebang itu. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, disamping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sang anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustrasi Imam Ghazâli. Jika demikian tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehat yang dapat dimakan? Demikianlah Wa Allâh A’lam. (M. Quraish Shihab: Dia Dimana Mana, “Tangan Tuhan Dibalik Setiap Fenomena”)

Wednesday, October 15, 2008

Tasauf

Pada zaman Nabi tidak ada tasauf. Tasauf muncul beberapa waktu setelah kejayaan islam di dunia, dimana umat islam telah mengalami kehidupan yang makmur, harta belimpah, banyak uang, sehingga sebagian umat yang tadinya patuh dan taat mengikuti sunah Nabi, mulai sedikit-demi sedikit meninggalkan ajaran agamanya. Melihat kondisi tersebut para ulama yang tidak mau terkontaminasi dengan kondisi masyarakat yang tidak lagi mengutamakan ajaran agama, berusaha menyingkir dari kota, pergi dari kehidupan ramai menuju ke kampung atau pegunungan untuk bisa melaksanakan ajaran agama secara holistic dan murni. Hal ini disebut uzlah.

Mereka para ulama tersebut berusaha hidup sederhana tidak mau mengikuti pola hidup masyarakat perkotaan yang hidup mewah. Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol (Suf) kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan dan kejauhan dari dunia. Akhirnya para ulama tersebut yang memakai pakaian suf, diberi gelar sufi. Sedangkan ajaranya disebut dengan tasauf.
Pada intinya ajaran sufi bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) dimana pada tahap tertinggi disebut dengan Ma’rifat. Mengenal Allah. Untuk mencapai tahap ma’rifat ada beberapa tahap yang harus dilalui. Tahap tersebut disebut juga maqam atau maqammat dalam bentuk jamak. Sedangkan jumlah tahapan atau maqam tersebut berbeda-beda menurut para ulama tergantung kepada jalan (tareqat) yang dilalui. Ada yang menebutkan 4 maqam, 8 maqam, ada yang 10 maqam. Contohnya kalau kita dari Bandung berangkat ke Jakarta, ada beberapa sub terminal yang harus dilalui sebelum sampai di Jakarta. Misalnya:
1. Bandung, Cianjur, Puncak, Bogor, Jakarta. 4 terminal
2. Bandung, Cianjur, Bogor, Jakarta. 3 terminal
3. Bandung , Cipularang, Jakarta. 2 terminal

Sekarang ada yang bertanya, Siapa saja yang bisa mengikuti atau menjalankan ilmu tasauf? Dalam pengertian mendekatkan diri kepada Allah, semua orang bisa menjalani hidup sufi, atau tasauf. Dan harus dijalankan secara sungguh-sungguh. Bisa saja orang yang saat ini sering atau suka melakukan kegiatan maksiat, tahun depan tingkah lakunya berubah 180o. Seseorang yang hari ini sering berpakaian yang membuka aurat, bisa saja bulan depan menjadi muslimah yang taat, berpakaian dan bertutur kata secara islami. Misalnya ada seorang wanita yang sehari-harinya dia memakai pakaian tidak islami, diperingatkan oleh seorang ustadz, namun dia menjawab, saya lagi bersedeqag, Subhanallah. Namun tiba-tiba dia berubah jadi baik….
Namun untuk mencapai itu perlu perjuangan atau pertobatan. Taubat itu artinya kembali. Tobatnya seorang umat sangat disukai oleh Allah. Kebahagiaan Allah ketika menerima taubat umatnya lebih bahagia dari kebehagian seorang musafir musafir di padang pasir yang kehilangan onta berisi semua perbekalannya, tiba-tiba untanya itu ditemukan (kembali)
Pertobatan perlu perjuangan (muhajadah). Ada tingkat-tingkat yang harus dilalui dalam mujahadah, yaitu:
1. Takhalli.
2. Tahalli
3. Tajalli

1. Takhalli
Takhalli berarti mengeluarkan. Maksudnya mengosongkan atau membuang atau menyucikan hati dari sifat-sifat yang keji. Membuat sifat-sifat iri, dengki, sombong, takabur, mengambil hak orang lain, mengambil yang bukan haknya, mencuri, korupsi, menipu, berzina, menggunjing (gossip), durhaka, dll. Pada peringkat ini, kita mesti melawan dan membuang (secara paksa) dan terus menerus semua kehendak nafsu yang rendah (jahat) dan yang dilarang oleh Allah. Selagi kita tidak membenci, memusuhi dan membuang kehendak-kehendak tersebut jauh-jauh secara paksa dan terus menerus, maka nafsu jahat itu akan sentiasa menguasai dan memperhambakan kita.
Apabila nafsu jahat dibiarkan menguasai kita, iman tidak akan mempunyai tempat dalam hati. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah tetapi akan menyembah hawa nafsunya. Oleh itu, usaha melawan hawa nafsu jangan dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar.

2. Tahalli
Tahalli berarti mengisi. Mengisi hati atau menghiasi dengan sifat-sifat terpuji. Setelah kita mujahadah mengosongkan hati dari sifat-sifat mazmumah atau sifat-sifat keji, segera pula kita isi dan hiasi hati kita itu dengan sifat-sifat mahmudah atau terpuji. Untuk ini, sekali lagi kita perlu bermujahadah. Untuk membuang sifat-sifat mazmumah dari hati perlu mujahadah. Untuk mengisi hati dengan sifat-sifat mahmudah pun perlu mujahadah. Kalau tidak, iman tidak akan wujud dalam hati kerana iman itu berdiri di atas sifat-sifat mahmudah.

3. Tajalli
Tajalli berarti menampakkan, memanifestasikan. Menampakkan sifat-sifat baik kita dalam segala tindakan kita. Ketika kita mengucapkan Allahu Akbar, maka dalam hati kita menyadari bahwa hanya Allah lah yang maha besar, sedangkan kita ini kecil. Bahkan yang lain juga kecil, apakah itu pimpinan kita, permasalahan yang sedang dihadapi, atau prestasi yang telah kita raih, semua menjadi kecil. Ketika kita dipuji orang kita tidak sombong. Biasanya kita kalau dipuji orang, menjadi sombong dan membanggakan diri dengan berucap: Iya siapa dong, kalau bukan karena saya, tidak akan beres. Maka orang yang telah mencapai tingkat tajalli ketika dipujia, akan mengucapkan Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, hanya Allah yang berhak dipuji.
Sebaliknya, tidak merasa hina atau marah ketika dicaci orang. Bahkan tidak takut ketika diancam orang. Ingat bahwa ajal, hidup, mati ada di tangan Allah. Ingat Al-Quran 35:13: Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Tidak terjadi sesuaitu tanpa adanya izin dari Allah.
Imam Al Ghazali, seorang ulama besar dan menguasai ilmu tasauf, suatu hari difitnah oleh muridnya. Fitnah tersebut menyebar ke masyarakat. Menghadapi hal tersebut Imam Al Ghazali tidak marah atau atau merasa terhina. Orang semulya Gazali-pun difitnah orang, Bagaimana dengan kita? Beberapa waktu berlalu, sang muridnya merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada muridnya. Ya Imam, yang menyebarkan fitnah tentang Imam adalah saya. Saya mohon maaf. Al Gazali menjawab, kamu rupanya. Tapi memberi maaf itu pekerjaan mudah. Namun sebelum saya memberi maaf, akan saya tunjukkan sesuatu kepada engkau. Al Gazali mengajak muridnya itu ke puncak bukit sambil membawa segenggam bulu burung. Sampai di puncak bukit sang Imam meniup bulu burung itu dan melepasnya. Kontan saja bulu burung beterbangan di hembus angin. Ada yang jatuh di tempat yang dekat, ada yang jauh, ada yang jatuh dipuncak rumah, di atas pohon, di sungai. Menyebar kemana-mana. Selanjutnya Imam mengatakan bisa kah engkau mengambil kembali bulu burung. Tentu saja itu pekerjaan yang sangat sulit dan tidak mungki, kalau tidak dikatakan mustahil. Begitu juga lah ibaratnya, fitnah yang disebarkan seseorang. Alangkah sulitnya memulihkan nama baik orang yang sudah difitnah. Mungkin dengan fitnah itu, pandangan masyarakat tentang seseorang telah terbentuk. Walaupun dalam dunia pers ada hak jawab, bagaimana kita mengembalikan pandangan semua masyarakat yang sempat mendengat fitnah tersebut. Kalaupun diralat, bisa saja orang yang mendengar fitnah tidak sempat mendengat ralatnya, atau dia lebih percaya pada berita pertama. Maka dari itu janganlah sekali-kali memfitnah orang.

Dengan Tajalli terasa kebesaran dan kehebatan Allah atau keadaan sentiasa rasa bertuhan. Ia adalah sebagai hasil dari mujahadah. Ia satu perasaan yang datang sendiri. Agak sukar untuk menggambarkan perasaan ini dengan bahasa tetapi secara ringkas, secara mudah dan secara asasnya, ia adalah rasa bertuhan, rasa dilihat dan diawasi oleh Tuhan, hidup, nampak dan terasa kebesaran Allah. Apa saja masalah hidup dihadapi dengan tenang dan bahagia. Tidak terasa kesusahan dalam hidup. Yang baik mapun yang buruk dirasakan sebagai hadiah dari Tuhan. Dunia terasa bagaikan Syurga. Inilah kebahagiaan yang sejati dan abadi iaitu kebahagiaan hati.
Disarikan dari ceramah Ust. Asep Zaenal Ausaf pada bulan Ramadhan 1429.

Friday, September 5, 2008

Value Chains pada Perusahaan Garmen

Pengertian value chain dijelaskan secara sederhana sebagai the full range of activities which are required to bring a product or service from conception, through the different phases of production (involving a combination of physical transformation and the input of various producer services), delivery to final consumers, and final disposal after use. Lebih dari itu terdapat beberapa rangkaian kegiatan di dalam masing-masing links chain. Meskipun sering dilukiskan sebagai suatu rantai vertikal, mata rantai-internal sering mempunyai sifat dau arah. Misalnya bagian design tidak hanya dipengaruhi oleh sifat dari proses produksi dan pemasaran, tetapi juga dipengaruhi oleh mata rantai secara keseluruhan.
Secara tradisional, industri dalam negeri berpikir secara local. Berpijak dari konsep tersebut, kondisi lokal sering menghasilkan kekuatan global, yang disebut global value chains. Konsep global value chains memperkenalkan bahwa memproduksi barang dan jasa secara globalisasi.
Konsep global value chains mengenal bahwa design, produksi dan pemasaran beberapa produk yang melibatkan beberapa mata rantai kegiatan dan dilaksanakan oleh beberapa perusahaan yang berada pada yang berbeda. Dengan demikian value chain merupakan kegiatan yang diperlukan untuk membawa suatu produk dari barang mentah kepada konsumen akhirnya. Mata rantai tersebut mencakup semua tahap pengembangan produk, mulai dari design, bahan baku, barang jadi (intermediate input), marketing, distribusi kepada konsumen akhir.
Terdapat peluang bisnis yang ada di setiap tahapan value chain, yaitu pada tahap design, input, produksi, maupun distribusi.
ERP merupakan solusi yang intergratif untuk memadukan aplikasi-aplikasi yang ada dalam suatu perusahaan untuk mencapai tujuan perusashaan secara efektif dan efisien serta cermat.