Saturday, April 11, 2026

Jasa Audit Investigasi, Audit Penghitungan Kerugian Keuangan Negara dan Pemberian Keterangan Ahli

Kami siap membantu dari sisi penyidik maupun dari sisi penasehat hukum. Saksi a charge maupun saksi a de charge. 

Kami berpengalaman dalam melaksanakan audit investigasi, audit penghitungan kerugian keuangan dan pemberian keterangan ahli di persidangan sudah lebih dari 20 tahun di BPKP.

Selama ini kami sudah berpengalaman dalam melakukan audit investigasi atau Penghitungan kerugian keuangan negara dalam berbagai bidang kegiatan mulai dari Instansi Pemerintah, BUMN, Bank, Koperasi, Pengadaan tanah, Pengadaan bibit kakao, bantuan sosial bagi masyarakat. pengadaan secara e katalog.

Kami juga siap melayani analisis kasus untuk membantu pihak yang sedang menghadapi pekara dalam skasus tipikor. 



https://www.instagram.com/harmailisjuo/

Sunday, September 10, 2017

Bukti Audit Vs Alat Bukti (KUHAP)

5 W dan 1 H
Ada yang bertanya.... kenapa kau terima permintaan bantuan audit dari penyidik sementara bukti yang disodorkan hanya BAP. Berarti itu baru ada satu alat bukti. Seharusnya minimal ada 2 alat bukti supaya kasus dapat dilanjutkan ke penyidikan dan selanjutnya pengadilan.
Awalnya bingung pula awak menjawab pertanyaan Bapak ini. Sepertinya betul juga pendapatnya. Sementara tim sudah selese bekerja, laporan sudah jadi.
Diskusi cukup lama.... akhirnya diujung pembicaraan kita sepakat untuk lebih teliti dalam menerima permintaan bantuan audit..... sambil mencari referensi yang tepat untuk menjawab pertanyaan Bapak itu.
Hasil pencarian file peraturan dan materi diklat, ditemukan lah.....
Bagi auditor berlaku peraturan tentang disiplin ilmu audit. Sesuai PPBI tentang kecukupan informasi agar dapat dilakukan bantuan audit investigasi adalah terpenuhi unsur 5 W dan 1 H.
Dalam kondisi tertentu minimal ada 3 huruf W; What Where dan When. Sementara audit PKKN dapat diberikan jika penyimpangannya sudah jelas, nilai kerugian negara dapat diperkiraka, diperoleh bukti yang kompeten, relevan dan cukup, dan tidak sedang tangani oleh auditor lain. Demikian SOP penugasan AI.
Sementara hakim di pengadilan membutuhkan 2 alat bukti dari 5 yang ada sesuai KUHAP 184, yaitu Keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.
Menurut penyidik kasus ini telah diperoleh 2 alat bukti, yaitu Keterangan Saksi dan Petunjuk. Petunjuk adalah kesesuai informasi antara alat bukti (beberapa saksi, atau barang bukti).
Nyata berbeda bukti menurut auditor dan alat bukti menurut hukum.
#Mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan
#buktiaudit
#alatbukti

Monday, August 26, 2013

PERBANDINGAN INDONESIA DAN JEPANG

Kebersihan
Di Jepang tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan. Kedisiplinan mereka yang luar biasa menjadikan ketaatan mereka terhadap peraturan begitu luar biasa. Sebagai contoh, ketika para perokok Jepang berjalan-jalan di taman, maka mereka akan membawa asbak di kantong mereka untuk membuang debu dan puntung rokok mereka. Jika menjumpai tempat sampah, maka mereka akan membuang asbak tersebut di tempat sampah. Itu adalah sebuah contoh kecil yang sangat luar biasa, yang menghargai detil kecil dalam rangka penghargaan terhadap lingkungan.
            Hutang-hutang di Jepang sangat terjaga dan tidak di jaman oleh tangan-tangan jahat manusia, padahal berada bersebelahan langsung dengan pemukiman yang pada penduduk. Aturan tentang izin mendirikan bangunan, lingkungan dan hutan begitu ketat serta sangat dipatuhi oleh orang-orang Jepang. Selain itu aturan tentang gas buang (emisi) kendaraan juga ditegakkan secara ketat. Mobil dan kendaraan yang tidak lolos uji emisi tidak diizinkan beroperasi. Bahkan tidak ada mobil solar yang diizinkan berjalan, karena memang tidak ada yang lolos uji emisi.
Aturan tentang sampah juga diterapkan secara tegas di Jepang. Di sana ada pembagian jenis sampah dan jadwal pembuangan sampah berdasarkan jenisnya. Secara umum sampah dibagi menjadi dua jenis, yaitu sampah yang bisa dibakar dan tidak bisa dibakar. Di samping itu adalah pembagian yang lain yang lebih khusus misalnya sampah elektronik, sampah bahan-bahan berbahaya (korek gas, batu baterai, dan silet), botol plastik, gelas, botol alumunium,  dan sebagainya. Masyarakat Jepang benar-benar melakukan pembagian jenis sampah itu secara tertib. Bukan hanya itu, jadwal pembuangan sampah pun dilaksanakan dengan disiplin, misalnya hari Selasa dan Kamis adalah untuk membuang sampah elektronik.
            Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Kesadaran masyarakat kita untuk membuang sampah pada tempatnya sangat minim. Di sungai-sungai kita lihat sampah mengapung, bahkan hingga menutupi permukaan air. Tak ayal saat musim hujan tiba, banjir pun menjadi musibah rutin. Perihal aturan emisi kendaraan juga tidak terlalu ketat. Di kota-kota besar kita lihat bagaimana metromini, truk dan kendaraan lainnya yang notabene sudah mengantongi sertifikat lolos KIR dari Dinas Perhubungan, namun ternyata masih mengeluarkan asap tebal yang menyesakkan dada dan membuat udara menjadi hitam oleh polusi.
Pendidikan
Di Jepang pendidikan adalah hal yang sangat diperhatikan. Pendidikan menjadi ujung tombak kemajuan suatu Negara. Dan hal ini sangat dipahami oleh pemerintah Jepang. Berbagai macam fasilitas diberikan oleh pemerintah Jepang secara gratis untuk menunjang pendidikan berkualitas. Bagi anak yang tidak mampu juga akan mendapat bantuan khusus. Sehingga tidak ada alasan bagi para pemuda-pemudi di Jepang untuk tidak belajar. Mereka semua bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.
Transportasi
Di Jepang hampir semua jalan memiliki trotoar. Ini adalah wujud penghargaan pemerintah Jepang terhadap pejalan kaki. Coba kita bandingkan bagaimana jalan-jalan di Indonesia. jalan jalan di Indonesia sangat banyak yang tanpa trotoar, sehingga para pejalan kaki terpaksa menggunakan badan jalan untuk berjalan yang beresiko tertabrak kendaraan. Pemerintah bisa saja beralasan karena kekurangan dana, tapi itu alasan yang sudah basi.
            Di kota-kota utama Jepang (Nagoya, Osaka, Tokyo, dll) kereta bawah tanah menjadi sarana transportasi utama. Sedangkan di Indonesia yang menjadi sarana transportasi utama adalah bus dan angkot. Tingginya mobilitas penduduk memerlukan lebih banyak sarana transportasi. Namun sarana transportasi sehebat apapun jika hanya di atas tanah. Sebagai contoh, Jakarta tiga sampai lima tahun lagi, bila penambahan jumlah kendaraan dan populasi penduduk tidak diimbangi dengan penambahan infrastruktur jalan, makan kemungkinan kota itu akan lumpuh dan roda perekonomian akan tersendat.
            Di Jepang tempat parkir sebanding dengan jumlah kendaraan. Sedangkan di Indonesia, trotoar dijadikan lahan parkir. Banyak yang membuka toko dan usaha tanpa menyediakan lahan parkir, sehingga para pelanggan memarkirkan kendaraan mereka di bahu-bahu jalan. Akibatnya, ruas jalan raya semakin sempit, dan kemacetan pun tak terhindarkan.
            Di Jepang aturan tentang gas buang benar benar dilaksanakan. Dan tahukah anda mengapa mobil lama tidak boleh dipakai di Jepang. Sebenarnya tidak ada aturan tentang itu, tetapi mobil-mobil lama kemungkinan sudah tidak lolos uji emisi, sehingga tidak diizinkan lagi untuk dikendarai. Bahkan kendaraan solar dilarang digunakan di Jepang karena tidak ada yang lulus uji emisi. Jalan-jalan di Jepang begitu bersih asap knalpot, bahkan asap putih pun tidak ada. Tidak seperti di Indonesia, polusi kendaraan  bermotor begitu luar biasa. Apakah di Indonesia tidak ada peraturan mengenai itu? atau sebenarnya ada, tetapi tidak dilaksanakan. Jawabnya silahkan tanyakan pada diri anda sendiri.

Sumber : Imam Subarkah; Ilham-Ilham Dahsyat dari Kesuksesan Bangsa Jepang.

Thursday, August 22, 2013

Sebelas Penyakit Auditor

Teman-teman auditor senasib dan seperjuangan, berikut ini ada sebelas penyakit yang perlu dihindari agar bisa tetap menjadi auditor yang profesional :

1.      TIPUS         : Tidak Punya Selera
2.      KUDIS        : KUrang DISiplin
3.      ASMA        : ASal Mengisi Absen
4.      Mual          : Mutu Amat Lemah
5.      Kusta         : Kurang Strategi
6.      TBC            : Tidak Bisa Computer
7.      KRAM        : Kurang Terampil
8.      ASAM URAT1: Asal Sampai Kantor Uring-Uringan Alias Tidur
9.      ASAM URAT2: Asal Sampaikan Materi Output Kurang Akurat
10.  GINJAL       : Gaji Ingin Naik Tapi Kerjanya Lamban
11.  Lesu           : Lemah Sumber Referensi
12.  Diare         : Di Tempat Kerja Auditan Diremehkan
13.  KUMAN     : Kurang Iman dan Kurang Amanah
14.  KUTIL         : Kurang Teliti
15.  Kurap         : Kurang Rapi


Silahkan ditambahi kalau teman teman menemukan adanya indiskasi selain yang tertera di atas.
Terima kasih. 

Saturday, September 1, 2012

Pengalaman Beli Pure-it

Saya  beli pure-it sekitar sekitar 10 hari yang lalu. Ketika meminum airnya betul-betul rasa air mentah, seperti rasa minum air sumur atau air sungai tanpa dimasak dulu. Jadi rasanya sangat  berbeda jika dibandingkan dengan rasa air galon atau air 'aqua'. Selain itu di permukaan airnya ada seperti minyak. apakah filternya tidak sempurna. Anak-anak malah ga mau meminumnya lagi setelah mencobanya satu kali. Kenapa ya....

Monday, January 23, 2012

SATU HAKIM DI SURGA, DUA DI NERAKA

Dikisahkan Bani Israil mengangkat tiga orang hakim untuk memutus perkara. Bila terjadi pertentangan di tengah masyarakat, akan diputus oleh hakim pertama. Jika ada yang tak menerima putusannya, hakim kedua turun tangan. Dan jika masih belum puas, masyarakat boleh mendatangani hakim ketiga. 

Satu hari malaikat menyamar untuk menguji ketiga hakim tersebut. Menyerupai manusia, malaikat tersebut menaiki kuda dan mendekati sebuah sumur. Tiba-tiba datang seorang lelaki bersama seekor sapi betina dan anak sapi. Ia berniat memberi minum kedua sapinya. Dengan izin Allah, malaikat memberi isyarat agar anak sapi itu mengikutinya. 

Saat pemilik sapi betina hendak pergi, sapi kecilnya tak mau bergerak. Ia mencoba berbagai cara. Malaikat yang menyerupai manusia itu lantas mengatakan bahwa anak sapi itu miliknya yang dilahirkan dari kudanya. ''Pergilah. Tinggalkan anak sapi itu karena ia milikku.'' 

Pemilik sapi itu geram. Ia mencari keadilan. Didatanginya hakim pertama. Malaikat yang memang hendak menguji kejujuran hakim itu lebih dulu mendatangi hakim pertama. ''Bila engkau memutuskan anak sapi itu milikku, engkau akan mendapat hadiah.'' Tergiur oleh hadiah, hakim pertama memutus sesuai permintaan malaikat. 

Kepada hakim kedua, malaikat melakukan hal serupa. Begitupun saat pemilik sapi mengadukan nasibnya ke hakim ketiga atau terakhir. Namun hakim ketiga memberi jawaban aneh. ''Aku tak dapat mengadili masalah ini karena sedang haid.'' 

''Apa maksudmu. Bagaimana mungkin seorang lelaki mendapat haid. Itu khusus buat wanita,'' kata malaikat. 

Hakim itu lantas melanjutkan argumennya. ''Engkau merasa aneh dengan kata-kataku tapi tak merasa ada yang ganjil dengan maksudmu. Bagaimana mungkin ada kuda melahirkan anak sapi.'' Atas peristiwa itu malaikat kemudian berkata, dua hakim di neraka dan satu di surga. 

Wednesday, January 18, 2012

Doa Nabi Musa

Diriwayatkan bahwa Nabi Musa a.s berdoa kepada Tuhannya: "Ya Rabbi, Engkau telah menciptakan makhluk, kemudian mengurusi mereka dengan nikmat-Mu. Kemudian Engkau jadikan mereka di hari kiamat di nereka-Mu.!" Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Wahai Musa, bangkitlah dan bercocok tanamlah." Nabi Musa menanam tanaman, menyirami, memelihara, memanen dan membuang sebagiannya. Allah berfirman kepadanya, "Apa yang engkau lakukan atas tanamanmu?" Dia menjawab, " Aku telah mengambilnya." Allah berfirman, "Apa yang engkau tinggalkan?" Ya Allah, aku meninggalkan apa yang tidak punya kebaikan." Allah berfirman, "Akupun memasukkan orang-orang yang tidak punya kebaikan ke dalam neraka. yaitu orang-orang yang terlalu sombong, sehingga tidak mau mengatakan, "laa ilaha illa Allah"

Saturday, September 17, 2011

TANTANGAN YANG DIHADAPI UMAT ISLAM


Tulisan ini merupakan kutipan dari salah satu sumber. mudahan-mudahan bermanfaat. 
Sebelum berbicara tentang rincian tantangan, perlu digaris bawahi bahwa tantangan dan lawan yang harus dihadapi bukan saja yang datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri kita sendiri. Itulah yang menjadi salah satu sebab mengapa Nabi saw. Menegaskan - ketika kembali dari suatu pertempuran -  bahwa: “Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar, yakni melawan diri kita sendiri.” Diriwayatkan juga bahwa Sayyidina Ali kw. pernah bersabda: Hai manusia, penyakitmu ada pada dirimu, tetapi engkau tidak mengetahui, dan obatnya ada padamu, tetapi engkau tidak hiraukan.”
Kalau kini kita telah menyadari adanya tantangan, maka tantangan itu pertama kali harus dicari pada diri kita, sebelum mencari pada orang lain, atau menuduh mereka menjadi penyebabnya. Dalam hal ini kita hendaknya belajar pada jari-jari kita menunjuk. Hanya satu jari yang kita arahkan keluar, yaitu jari telunjuk, sedangkan tiga jari lainnya menunjuk ke diri kita sendiri, dan salah satunya ditekan oleh ibu jari kita.
Dahulu umat islam disegani oleh masyarakat dunia. Mereka belajar dari kita. Tetapi, kita tertinggal dalam segala bidang, bahkan kita mendapat tantangan dari segala penjuru. Ada yang berkata andaikata Baghdad tidak jatuh ke tangan Mongol pada tahun 1258 M, yang disusul dengan penghancuran pusat-pusat ilmu; dan andaikata dunia barat tidak menemukan jalur perdagangan laut pada abad ke-15 M, tentulah keadaan dunia islam tidak seperti sekarang ini. Tetapi apa gunanya berandai-andai karena jarum waktu tidak bisa diputar kembali. Sejak itu, sedikit demi sedikit – tetapi pasti – dunia islam telah mengalami keterpurukan, dan itu berlanjut hingga kini.
Kini dunia Islam yang mengalami kontak dengan Barat, bukan lagi dunia Islam sebelum keruntuhan Baghdad, atau keruntuhan Dinasti Muwahiddun dan terusirnya kaum Muslimin dari Spanyol tahun 1235 M. Bahkan, tantangan yang dihadapi kini bukan hanya dalam bidang politik dan ekonomi, tetapi ideologi dan filsafat materialistis, yang tak jarang bertentangan dengan ajaran islam.
  Kesadaran tentang adanya tantangan telah lama muncul. Aneka resep dan langkah perubahan pun telah diupayakan. Ada yang mengambil sikap apatis atau acuh tak acuh terhadap kemajuan itu, yang boleh jadi karena mereka tidak karena mereka tidak menyadari dampak buruknya terhadap umat pada satu pihak, dan terbuai oleh kejayaan masa lampau pada pihak lain. Mereka inilah yang menghasilkan apa yang kemudian dinamai Adab al-Fakhr wa at-Tamjid, yakni menunjuk zaman keemasan yang telah berlalu dan berbangga dengannya. Dampak buruk dari sikap ini adalah sering kali bila ada penemuan ilmiah dari pihak lain, kita berucap: “Itu sudah ada dalam al-Qur’an.”
   Ada juga yang berusaha menghadapi cabaran (tantangan) itu dengan pemurnian agama, seperti antara lain yang dilakukan gerakan Wahabiyahdi Saudi Arabia, as Sanusiyah di Libya, dan Jamaah Islamiyah di Pakistan. Mereka beranggapan bahwa masa Rasulullah adalah masa terbaik berdasarkan hadits Rasulullah saw. Sebaik baik generasi adalah generasiku. Konsekwensinya, mereka berusaha mempertahankan apa saja yang diterima dari Rasul saw. tanpa mempertimbangkan faktor budaya dan perkembangan positif masyarakat. Mereka lupa atau mungkin tidak mau tahu bahwa Rasul saw. juga pernah bersabda : Umatku seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya , tengahnya , atau akhirnya yang terbaik.
Adalagi sekelompok kaum muslim yang menilai bahwa tantangan itu harus dihadapi dengan belajar dari Barat dan mengambil segala sesuatu dari sana. Tetapi, mereka itu sering sekali lupa pada akar budaya mereka sendiri serta ajaran agama Islam. Ini, misalnya, ditempuh oleh Ahmad Khan di India dan Kemal at-Taturk di Turki.
Ada juga sekelompok kecil lain yang berusaha mempelajari aneka kemajuan yang dicapai oleh bangsa barat dan menerapkannya tanpa meninggalkan kepribadian dan prinsip-prinsip ajaran agama. Ketiga pandangan di atas hingga kini masih memiliki pendukung-pendukungnya.
Demikianlah, kita mengetahui bahwa diri kita sakit, tetapi obat yang kita gunakan belum tepat. Apa yang telah dilakukan selama ini, paling baru sebatas infus untuk mempertahankan hidup, belum sampai pada pengobatan yang tepat untuk menghilangkan penyakitnya.
 Kini, kalau kita telah menyadari bahwa masyarakat Islam berada dalam tantangan dan ketertinggalan, padahal dahulu pernah jaya, maka tuntunan kitab suci kita menuntut agar kita mencari sebab perubahan itu. Mengapa kita berubah sehingga kita terpuruk dalam keadaan tertantang? Mengapa dewasa ini kita menjadi konsumen peradaban, sedang dahulu kita adalah produsennya?
Sebagian pakar berkata bahwa untuk mewujudkan peradaban diperlukan tiga unsur yang menyatu, yaitu manusia + tanah/wilayah + waktu. Tersedianya ketiga unsur tersebut pun belum berarti , kecuali kalau ada zat perekatnya, yaitu agama dan nilai-nilai spiritual.
Semua peradaban lahir dari ketiga hal tersebut, yang tentu saja disertai dengan perekatnya. Menurut sebagian pakar, seperti Max Weber, bahwa kebangkitan Eropa lahir dari etika Protestan, dimana mereka menekankan bahwa surga itu dapat diperoleh melalui sukses di dunia, dan karena itu, mereka bersungguh-sungguh membangun diri dan masyarakat dalam kehidupan dunia ini guna meraih surga ukhrawi. Bandingkanlah nilai spiritual ini dengan pandangan sebagian umat Islam yang bertolak belakang dengan nilai tersebut.
Dalam pengamatan banyak pakar, nilai-nilai spiritual atau ajaran agama selalu menyertai lahirnya peradaban. Bahkan dari lima belas peradaban besar yang dikenal dalam sejarah, dimulai dari Peradaban Sumeria hingga Peradaban Amerika dewasa ini, kesemuanya lahir dari upaya mempertahankan nilai-nilai tersebut yang terpaksa mereka lakukan dengan berhijrah ke tempat lain.
Umat islam dewasa ini memiliki ketiga unsur peradaban di atas, manusia, tanah/materi, dan waktu. Umat Islam pun memiliki ajaran agama, namun keadaan kita tidak seperti yang kita harapkan. Jika demikian, kita harus mencari akar persoalannya - yang sekaligus menjadi tantangan kita – pada unsur-unsur peradaban itu, manusia, tanah dan waktu, juga pada nilai-nilai perekatnya, yakni pemahaman dan pengamalan agama kita. Apakah ada yang keliru? Jumlah kaum muslimin banyak, tanah yang dimilikinya luas, dan waktu yang tersedia tidak lebih sedikit dari waktu pihak lain. Jika demikian bagaimana dengan ajaran agamanya? Adakah yang keliru? Setiap orang Muslim pasti akan berkata: Tidak! Karena itu, boleh jadi pemahaman dan pengamalan kita terhadap Al-Quran-lah yang keliru, dan dari sudut sini lahir slogan: Mari kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. (Insya Allah Bersambung)

Wednesday, July 13, 2011

Malaikat beristighfar bagi orang Mukmin

Rasulullah bersabda dalam beberapa hadits bahwa malaikat beristighfar bagi orang-orang mukmin yang melakukan aktivitas tertentu, seperti:

  • Mereka yang berada pada shaf pertama (HR Abu Dawud melalui al-Bara Ibn Azib)
  • Yang menyempurnakan shaf yang kosong ( HR Ibn Majah melalui Aisyah ra)
  • Yang bangun untuk sahur ( HR Ibnu Hibban melalui Ibn Umar)
  • Yang bershalawat pada Nabi saw. ( HR Ahmad melalui Amir Ibn Rabi'ah)
  • Yang menjenguk orang sakit (HR Abu Dawud melalui Ali Ibn Thalib)

Monday, June 20, 2011

BIOGRAFI IBLIS


   
       Nama                                : Iblis
Gelar                                 : Setan
Tgl Lahir                            : 1-1-Tahun perintah sujud kepada Adam
Alamat                              : Hati orang-orang yang lengah
Warga Negara                  : Dunia
Agama                               : Kekufuran
Pekerjaan                          : Pengasuh semua manusia yang sesat dan dimurkai Allah
Pangkat dan golongan      : Pembangkang Utama
Jabatan                              : Pemimpin tertinggi kekufuran dan sirik
Masa Kerja                        : Sejak kelahiran nabi Adam sampai kiamat
Modal Kerja                      : Penipuan
Cara Kerja                         : Bertahap
Sarana                               : Seks, harta, dan semua hiasan dunia
Sumber rejeki                   : Semua yang haram
Tempat                              : Night club, pasar, dan tempat-tempat kotor
Hobi                                   : Menyesatkan dan menjerumuskan
Cita-cita                            : Semua manusia masuk neraka
Istri                                    : Semua yang terbuka auratnya
Anak sah                            : Lima orang
Cucu                                  : Yang durhaka pada orang tuanya
Yang ditakuti                     : Zikir dan ayat Al Quran
Musuh                               : Tuhan dan orang beriman
Teman                               : Semua yang rakus, boros, dan ingin kekal
Kekuasaan                         : Nihil
Kemampuan                      : Lemah
Wewenang                        : Merayu
Alat komunikasi                : Waswas dan mengumpat
Yang paling disenangi       : Pemutusan hubungan antara Tuhan dan manusia
Kepribadian                       : Angkuh


*dikutip dari suatu sumber

Monday, March 21, 2011

Keadaan Bumi Pada Hari Kiamat



Hadist No. 1
Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a, dia berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat Allah melipat langit lalu Allah menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya, kemudian Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong ? Kemudian Allah melipat bumi di tangan kiri-Nya. Lalu Allah berfirman, Akulah Maha Raja. Dimanakah sekarang orang-orang yang berbuat sewenang-wenang? Dimanakah sekarang orang-orang yang sombong? (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 7412).

Hadits No.2
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d r.a. dia berkata Rasulullah saw pernah bersabda: Pada hari kiamat manusia dikumpulkan pada bumi yang sangat putih berbentuk bulat pipih dan gundul tanpa ada tanda-tanda di atasnya bagi siapa pun.   (HR. Muslim, juga di riwayatkah oleh Bukhari, hadits nomor 6521).

Thursday, March 3, 2011

Rasul dan Jeruk Limau



Rasulullah sangat memuliakan dan sentiasa meraikan tetamu. Pada suatu hari Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabat di rumah Abi Arqam. Tiba-tiba datang seorang perempuan Quraisy ke arah mereka. 

Perempuan itu sebenarnya mahu menguji Rasulullah, benarkah baginda seorang yang sangat berakhlak dan tidak pernah mengecilkan hati orang. Perempuan itu membawa tiga biji limau yang diletakkan di dalam dulang bersamanya. 

Tiba di hadapan Rasulullah dia meminta Rasulullah memakan limau itu di hadapannya pada ketika itu juga. "Silalah makan limau hadiah saya ini," katanya. "Saya rasa bahagia jika tuan memakannya," sambung perempuan itu lagi. 

Mendengar kata-kata perempuan itu, Rasulullah dengan senang hati mengambil buah itu. Baginda mengupas kulitnya dan makan seulas demi seulas. Sambil makan limau itu baginda tersenyum manis. Setelah habis sebiji diambilnya sebiji lagi. Rasulullah makan dengan begitu berselera sekali. 

Para sahabat yang duduk di sekeliling baginda berasa ngiur melihat limau itu. Tambahan pula mereka semuanya dalam keadaan lapar. Tetapi mereka hairan dengan sikap Rasulullah yang langsung tidak mempelawa atau memberi limau itu kepada mereka. Kerana setahu mereka Rasulullah adalah seorang yang sangat pemurah dan dermawan. 

Setelah habis limau yang kedua itu baginda mengambil limau yang ketiga dan memakannya sambil melemparkan senyuman yang manis kepada para sahabat yang duduk bersamanya. Sebaik sahaja baginda selesai menghabiskan limau yang ketiga itu, perempuan Quraisy tadi dengan tersipu-sipu terus keluar tanpa berkata sepatah perkataan pun. 

Apabila perempuan itu hilang dari pandangan baginda, Rasulullah pun bersabda: "Limau itu tadi adalah limau yang paling masam yang pernah aku makan. Aku takut sekiranya aku memberi kamu, kamu akan makan dengan mengenyit-ngenyit mata di hadapan perempuan itu. Jadi aku takut kalau perbuatan itu boleh mengecilkan hatinya." 

Dengan itu fahamlah para sahabat yang berada bersama Rasulullah. Demi untuk menjaga hati perempuan itu Rasulullah sanggup menghabiskan buah limau itu walaupun ianya sangat masam. Baginda juga tidak menunjukkan sebarang reaksi yang tidak baik walaupun limau yang diberi itu masam. 

Malah Rasulullah sedikit pun tidak marah kepada perempuan itu yang hendak mempermainkannya. Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana mulia akhlak baginda. Baginda tidak sanggup mengecilkan hati seseorang walaupun terhadap orang bukan Islam.

Monday, February 14, 2011

Penjahat Baik, dan Penjahat Buruk

Ada dua orang yang bernama Badu dan Badai, masing-masing mempunyai seorang anak. Si Badu dan si Badai mempunyai korenah yang sama dalam hal perilaku buruk. Mereka sering melakukan perbuatan yang dilarang Allah seperti mabuk, judi ataupun zina. Sebaliknya jarang sekali melaksanakan perintah Allah seperti kewajiban shalat, puasa.

Namun ada sedikit perbedaan antara keduanya. Karena merasa bereperilaku jelek, si Badu ga pernah menganjurkan anaknya berbuat baik seperti ngaji, shalat atau puasa. Karena merasa tidak pantas menyuruh orang berbuat baik sedangkan dirinya sendiri tidak pernah melakukan amal kebaikan. Sedangkan Badai sering menganjurkan anaknya berbuat baik karena tidak mau anaknya menjadi seperti dia. Makanya si Badai mengirim anaknya berguru pada seorang kiyai, menyuruhnya mengaji, sembahyang dan puasa.

Mana yang baik perilaku diantara kedua orang itu.

Semoga menjadi renungan. Subhanllah.



Teh Botol, Kasih Seorang Ibu


Dalam ceramahnya, seorang Ustadz bercerita bahwa dia menerima sms dari seorang anak menanyakan “bolehkah menyiram kuburan dengan air teh botol?”  

Untuk menjawab pertanyaan tersebutnya sang ustadz merasa perlu mengetahui apa latar belakang anak tersebut  bertanya demikian, maka beliau terlebih dahulu menemui anak itu. Rupanya anak tersebut mempunyai ibu yang telah meninggal yang dulunya beprofesi sebagai pelacur. Menurut cerita sang anak ibunya kalau maupergi menjalankan profesinya selalu setelah mendirikan shalat Isya. Setelah pulang diapun mandi dan shalat dua rakaat. Setiap malam sang ibu selalu membawakan teh botol untuk sang anak, karena anaknya ini sangat menyukai teh botol. Dan teh botol tersebut selalu dibawa dalam kantong plastik.

Setelah ibunya meninggal, dari cerita teman-teman sang ibu, diketahui bahwa teh botol yang dibawa pulang tersebut berasal dari sisa sisa minuman para tamu. Beliau ingin selalu memberi oleh-oleh untuk anaknya, sesuatu yang disukai anaknya walaupun penghasilnya sangat tidak mencukupi. Sang ibu berusaha menghemat uang demi untuk masa depan seorang anak, serta niat untuk dapat segera terbebas dari jeratan ‘maksiat”.  

Diceritakan bahwa sang anak ingin berbakti kepada orang tua dengan cara memberi siraman air teh botol dari botol yang asli (bukan dengan kantong bungkus plastik) sambil membacakan doa agar ibunya diberi ampunan oleh Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sang ustadz menambahkan bahwa kita tidak bisa menyamaratakan pandangan atas suatu kasus. Yang mungkin punya latar belakang yang kita tidak ketahui.

Subahanallah.

Wednesday, September 29, 2010

Hadits Nabi tentang Shadaqah

Rasulullah saw pernah bersabda :
“Barangsiapa yang meminta dengan menyebut nama Allah maka berilah; 
Barangsiapa yg meminta perlindungan dengan menyebut nama Allah maka lindungilah; 
Barangsiapa yg mengundangmu maka penuhilah undangannya; 
Dan barangsiapa yg berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah kebaikannya itu, tetapi jika kamu tidak dapat membalasnya maka do’akanlah untuknya dengan sungguh-sungguh sampai kamu merasa bahwa kamu sudah mmebalas kebaikannya”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra.)

Monday, March 22, 2010

RENUNGAN DARI ALPHABET

Thursday, December 24, 2009

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal

Mencermati Kondisi Batin: Ketika Kita Sedang dalam Kondisi Normal
By Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA
Kamis, 02 April 2009 pukul 13:11:00

ISI
• Orang yang serba berkecukupan seringkali sulit beribadah secara khusyuk dan merasa tidak akrab dengan Tuhannya, meskipun melakukan berbagai ketaatan dan ibadah, kenapa?
• Bagaimana dan apa kiatnya untuk memperoleh kedekatan diri dengan Tuhan dalam keadaan seperti ini?

Kondisi batin yang paling perlu diwaspadai ialah ketika kita sedang dalam keadaan normal. Ketika semua kebutuhan tercukupi apalagi berlebihan.

Musibah, hajat, dosa besar, dan berbagai kesulitan dan kekecewaan hidup lainnya lebih sering mendorong seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ketimbang kondisi batin yang sedang berkecukupan, baik dari segi kuantitatif maupun segi kualitatif.

Tingkat kebutuhan hidup setiap orang berbeda-beda satau sama lain. Namun wacana di dalam Islam dibedakan atas beberapa tingkatan kebutuhan, yaitu:

1) Kebutuhan dharury, yakni kebutuhan pokok atau basic needs seperti kebutuhan akan makan, minum, dan berhubungan suami-isteri.

2) Kebutuhan hajjiyat, yakni kebutuhan yang penting tetapi belum menjadi kebutuhan pokok, seperti kebutuhan akan sebuah tempat tinggal, kedaraan, dan alat komunikasi.

3) Kebutuhan tahsiniyyat, yakni kebutuhan yang bersifat pelengkap (luxury), seperti perabotan yang bermerek, aksessoris kendaraan, dan handphone yang lebih canggih.

Seseorang yang berada dalam tingkat kedua dan ketiga perlu berhati-hati karena perjalanan spiritual dalam kondisi seperti ini seringkali jalan di tempat. Bahkan berpeluang untuk diajak turun oleh berbagai daya tarik dan godaan dunia.

Berbeda jika seseorang sedang dirundung duka, sedang diuji dengan kebutuhan mendesak, atau sedang dilanda penyesalan dosa yang mungkin agak resisten terhadap godaan-godaan yang bersifat materi.

Kesenangan hidup, apalagi kalau sampai berlebihan, bawaannya sulit mendaki (taraqqi) ke langit. Sebagai contoh, orang yang berkecukupan sulit sekali berlama-lama khusyuk dalam shalatnya, bukan hanya karena banyaknya godaan dunia yang ada dalam pikirannya, tetapi juga tidak punya tekanan batin atau trigger, semacam roket pendorong yang akan mengangkatnya ke langit.

Trigger itu biasanya suasana batin yang betul-betul merasa sangat butuh pertolongan Tuhan. Seperti orang yang merasakan kesulitan yang sesegera mungkin harus mengeluarkan diri dari kesulitan itu.

Itulah sebabnya Rasulullah pernah mengingatkan untuk waspada terhadap doa orang yang teraniaya (madhlum) karena doanya lebih cepat sampai kepada Tuhan. Memang dalam Islam dikenal ada dua sayap efektif yang bisa menerbangkan seseorang menuju Tuhan, yaitu sayap sabar dan sayap syukur.

Sayap sabar terbentuk dari ketabahan seseorang menerima cobaan berat dari Tuhan seperti musibah, penyakit kronis, penderitaan panjang, dan kekecewaan hidup. Jika sabar menjalani cobaan itu, maka dengan sendirinya terbentuk sayap-sayap yang akan mengangkat martabat dirinya di mata Tuhan.

Sayap kedua ialah syukur. Sayap syukur terbentuk dari kemampuan seseorang untuk secara telaten mensyukuri berbagai karunia dan nikmat Tuhan, seperti seseorang mendapatkan rezki melimpah, jabatan penting, dan kesehatan prima.

Sayap sabar dan sayap syukur sama-sama bisa mengorbitkan seseorang mendekati Tuhan tetapi pada umumnya hentakan sayap sabar lebih kencang ketimbang sayap syukur. Sayap sabar seolah-olah memiliki energi ekstra yang bisa melejitkan seseorang. Energi ekstra itu tidak lain adalah rasa butuh yang amat sangat terhadap Tuhan (raja’), penyerahan diri secara total kepada Tuhan (tawakkal), dan olah batin yang amat dalam (mujahadah).

Ketiga energi ekstra ini biasanya sulit terwujud di dalam diri orang yang berkecukupan. Bagaimana mungkin seseorang merasa butuh terhadap Tuhan sementara semua kebutuhan hidup serba berkecukupan.

Bagaimana mungkin seseorang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sementara ia terperangkap di dalam dunia popularitas. Bagaimana mungkin melakukan olah batin sementara nuraninya diselimuti kilauan dunia. Bagaimana mungkin khusyuk beribadah sementara perutnya kekenyangan.

Orang yang hidupnya selalu berkecukupan dan enjoy dengan kehidupan seperti itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi jika ia lupa bahwa kehidupan ini adalah sementara lantas lalai mempersiapkan bekal kehidupan akhirat maka pertanda hidup itu tidak berkah baginya. Mungkin saja orang itu sesungguhnya hidup di dalam kebahagiaan semu, selalu dibayangi oleh suasana batin yang hambar, kering, dan membosankan.

Di dalam Islam, kekayaan dan kebahagiaan yang hakiki ialah kekayaan dan kebahagiaan jiwa (al-ghina ghinan nafs). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan jiwa maka sesungguhnya tidak ada kekayaan dan kebahagiaan sejati.

Islam tidak melarang orang untuk mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif.

"Dunia adalah cermin akhirat", demikian kata Hadis. Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, haji, bahkan puasa, pun membutuhkan cost. Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia.

Kiat mengatasi suasana batin yang berada dalam kondisi normal ialah memperkuat semangat raja’ dan mujahadah di dalam diri. Seseorang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Rasulullah di Goa Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping isterinya Khadijah yang kaya, bangsawan dan serba berkecukupan.

Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari goa yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ’uzlah (pemisahan diri) sementara dari suasana hiruk pikuknya pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i’tikaf di salah satu masjid, apalagi di dalam bulan suci Ramadlan.

Di dalam masjid kita berniat untuk beri’tikaf karena Allah. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, shalat, tafakkur dan berzikir. Niatkan bahwa masjid ini adalah goa Hira atau goa Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad dan Nabi Khidhir, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.

Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa faqir (miskin di mata Tuhan), apa lagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan yang bersangkutan akan melahirkan generasi lemah (dha’f) di mata Allah. Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak.

Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah. Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzah dan di alam baqa di akhirat.

Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan shadaqah, luruskanlah pikiran kita dengan zikrullah, dan lembutkanlah jiwa kita tafakkur dan tadzakkur, tangguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma’ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita),Amin.

Tuesday, December 16, 2008

KENAPA BABI HARAM

Babi adalah hewan berkaki pendek, berkulit tebal dengan bentuk tubuh bagai tong. Ada delapan jenis babi, yang nenek moyangnya adalah babi hutan. Babi hutan sangat cepat larinya dan pandai berenang. Babi hutan dijinakkan orang Cina sekitar 500 tahun yang lalu. Binatang ini menggabungkan pada dirinya beberapa sifat binatang buas dan binatang jinak. Ia memiliki taring dan memakan bangkai sebagaimana halnya binatang buas, tetapi dalam saat yang sama ia memakan rumput.

Babi adalah binatang kotor yang senang hidup di arena yang kotor. Dia makan yang serba kotor, walau bangkai, bahkan terkadang binatang ini membiarkan mangsanya beberapa hari, agar membusuk lalu memakannya.

Babi tidak dipelihara oleh bangsa-bangsa Arab, dan dipandang juga sebagai kotor oleh bangsa-bangsa Phoenicia, Etiopia dan Mesir. Bagi orang Yahudi, daging babi dilarang untuk dimakan. Dr. E. A. Widmer menulis dalam Good Health bahwa: “Daging babi adalah salah satu bahan makanan yang banyak dimakan, tetapi dia sangat berbahaya. Tuhan tidak melarang kaum yahudi memakan daging semata-mata untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya, tetapi karena daging babi bukan satu makan yang baik dimakan manusia.”

Babi sangat kuat dorongan seksualnya. Jantannya boleh jadi “menunggangi” betinanya yang sedang makan rumput. Si betina boleh jadi menempuh ratusan mil, sedang si jantan masih terus juga di punggungnya. Siapa yang melihat jejak kedua binatang itu sedang bercumbu, boleh jadi menduga bahwa itu adalah seekor binatang yang berkaki enam, padahal itu adalah dua ekor babi yang sedang berhubungan seks.

Jantan babi dapat berhubungan seks pada usia delapan bulan, bahkan ada babi yang melakukannya pada usia empat bulan. Betinanya melahirkan setelah usia enam bulan, dan tidak dapat melahirkan lagi bila mencapai usia lima belas tahun. Babi betina dapat melahirkan dua puluh ekor anak, dengan sekali pembuahan. Babi seringkali menceburkan dirinya di air kotor/lumpur untuk menyejukkan badannya. Kulitnya disamak dan bulunya yang keras dibuat sikat. Pertumbuhan babi sangat cepat. Ketika lahir beratnya sekitar 2 kg, tetapi setelah sekitar enam bulan, beratnya mencapai 100 kg, dan ini masih terus meningkat sampai akhirnya ditemukan babi dewasa yang beratnya antara 272 kg sampai dengan 363 kg. Semua yang diuraikan di atas antara lain disebabkan karena babi memiliki hormon pertumbuhan dan hormon seksual (Gonadotrophins) yang sangat tinggi, dan ini pula yang menjadikan ia memiliki banyak lemak.

Sementara pakar berpendapat bahwa babi dapat menularkan kepada manusia banyak penyakit, seperti influenza, peradangan otak (Japanese B Encephalitis), peradangan mulut dan hati (Stomatitis dan Myocarditis) dan lain lain.

Salah satu penemuan baru yang terungkap setelah maraknya rekayasa genetika, adalah ditemukannya virus-virus yang terdapat pada babi yang dapat mengakibatkan penyakit yang dapat membawa kematian pada manusia, karena virus-virus tersebut tidak dapat dibunuh melalui cara pembakaran atau pemasakan biasa. Ada juga virus yang dinamai oleh ilmuwan Trichine, yang menurut Ensiklopedia La Rose yang terbit di Perancis, virus ini bila masuk ke dalam diri manusia ia akan berpindah dari suatu tempat ke tempat lain hingga ke jantung manusia, kerongkongan dan matanya, dan ia dapat bertahan bertahun-tahun dalam badan manusia. Demikian lebih kurang yang dikutip oleh Mustafa az-Zarqa dalam fatwa-fatwanya.

Dalam buku S. Akhtar Rizvi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Daging Babi? No, dikemukakan juga bahwa ulat Trichina yang sudah cukup besar berukuran kira-kira 1/6 inci dan lebarnya 1/400 inci. Ulat ini dapat hidup selama empat puluh tahun, melingkar dalam bentuk jeruk, berupa kapsul kecil yang tak dapat dilihat di antara otot-otot. Apabila termakan oleh manusia, ia akan membesar dan menelurkan 500 ekor setiap ulat. Setelah satu sampai tiga minggu ia masuk ke dalam darah dan menyerang tubuh manusia serta menimbulkan sekitar lima puluh macam penyakit sehingga menyulitkan proses diagnosanya.

Ada lagi yang disebut oleh para dokter dengan nama Balantidium Coli. Ia adalah kuman yang normal pada perut babi. Ia keluar dari tubuh sebagai kotoran dan di luar ia tidak menemukan tempat sehingga berkembang menjadi sel di sekelilingnya yang disebut Cyst. Cyst berisikan parasit-parasit hidup yang berkomunikasi dengan makanan manusia sehingga masuk ke dalam perutnya. Hal ini menurut Sayyid S. Akhtar Rizvi dalam bukunya yang disebut di atas–ditemukan oleh Drston (1857) dan Stein (1862).

Di sisi lain, dalam harian asy-Syarq al-Ausath edisi 16-2-1999 M, dikemukakan kekhawatiran sejumlah dokter di Inggris atas upaya pencangkokan sel-sel babi pada otak penderita Parkinson.
Semua yang penulis sadur dari berbagai sumber di atas boleh jadi menjadi sebab pengharaman babi untuk dimakan, bahkan najisnya seluruh badannya–termasuk kulitnya–meski telah disamak sekalipun.

Ada persamaan antara babi dan manusia. Yaitu ia tidak dapat dikuliti, kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang yang lain. Di samping itu, para dokter dewasa ini menilai bahwa katup jantung babi adalah katup yang paling sesuai dengan katup jantung manusia. Apakah ini yang menjadi sebab sehingga babi terlarang dimakan? Boleh jadi demikian, kata sementara orang. Boleh jadi juga karena binatang ini sangat kotor, bahkan sementara orang berkata bahwa lalat pun enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya yang besar, seperti dikemukakan di atas, bisa juga menjadi penyebab pengharamannya. Memang makanan dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada makanan atau minuman yang bisa mempengaruhi jiwa manusia, dan dapat memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi. Apakah sifat-sifat binatang dapat mempengaruhi jiwa manusia? Penulis tidak mengetahui ada penelitian yang saksama menyangkut hal ini, tetapi hal tersebut tidak mustahil.

Jika anda tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar Anda menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama Islam–dan sebelumnya oleh agama Yahudi–adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak selalu harus dipahami nalar. Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas. Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan karena kendaraan mengambil arah kiri, berbeda dengan di Amerika, Jerman atau Timur Tengah dan banyak negara selain itu. Mengapa demikian? Anda tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila Anda di Indonesia atau di Inggris, Anda harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara itu, dan ketika berada di Jerman, Anda pun harus mematuhi sistem dan peraturan lalu lintas yang mereka tetapkan. Nah, demikian juga bila Anda menganut agama Islam, Anda harus mematuhi ketetapan Allah yang mengharamkan babi, baik Anda ketahui sebabnya maupun tidak.

Di sisi lain, perlu diingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazâli. Seorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah tempat tinggal mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu berpikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. Dalam benaknya berkata: “Ayah melarangku menebangnya karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku.” Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular menyerangnya yang datang dari arah pohon yang telah ditebang itu. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, disamping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sang anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustrasi Imam Ghazâli. Jika demikian tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehat yang dapat dimakan? Demikianlah Wa Allâh A’lam. (M. Quraish Shihab: Dia Dimana Mana, “Tangan Tuhan Dibalik Setiap Fenomena”)